Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILSAFAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Juni 2013

Jika ada Tuhan, Mengapa ada Kejahatan dan Penderitaan?


Dark-Evil-41164
Oleh: REZA A.A WATTIMENA
“…Dihadapan penderitaan yang sejak berabad-abad melimpah diatas dunia ini,
ajaran agama Kristiani tentang Allah yang mahakuasa dan maha baik
tidaklah meyakinkan…”[1]
Max Horkheimer
Bentuk ateisme yang paling sering ditemukan dewasa ini adalah penolakan adanya Tuhan berdasarkan fakta adanya penderitaan yang dialami manusia. Penolakan itu mendasarkan diri pada satu titik, yakni jika Allah, dengan segala kualitasnya yang serba Maha-, sungguh ada, mengapa ada penderitaan yang dialami oleh manusia? Penderitaan tersebut bukan hanya dialami oleh manusia karena kesalahan mereka sendiri, tetapi oleh manusia-manusia yang notabene tidak bersalah, seperti anak-anak kecil, dan sebagainya. Tulisan ini mau memaknai pemahaman filosofis macam itu dengan pendekatan yang lebih bersifat eksistensialis. Artinya, eksistensi Tuhan tidak dipahami sebagai sebuah entitas yang ikut campur secara langsung di dalam pergulatan dunia manusia, melainkan Tuhan sebagai entitas yang membantu manusia untuk mengintegrasikan penderitaannya ke dalam keseluruhan pengalaman hidupnya sebagai manusia, sehingga penderitaan tersebut tidak membuat manusia menjadi runtuh, melainkan semakin matang sebagai manusia yang dewasa. Tesis ini mungkin masih mengundang pertanyaan lebih jauh. Akan tetapi, tesis ini, pada hemat saya, bisa memberikan kontribusi pada diskursus tentang eksistensi Tuhan dan penderitaan manusia. Selamat mengikuti.
“…Saya tidak akan berpanjang-panjang, tetapi saya akan berbicara sekeras dan segigih mungkin. Kejahatan ada. Ini adalah sebuah fakta. Dengan membabi buta ia membabat baik yang tak bersalah maupun yang bersalah. Ia menimpa anak-anak. Itu saja. Itu cukup. Masalahnya telah beres. Tak ada apapun atau seorang pun yang akan membebaskan Allah dari derita anak kecil, si buyung yang tidak bersalah; betul, tidak ada, selain fakta bahwa ia tidak ada…”[2]
Ingatan kita masih segar atas bencana tsunami yang menelan begitu banyak korban, baik itu materi maupun jiwa, di Aceh Desember 2004 lalu. “…Diantara segala kepiluan, kebalauan, dan kepanikan melakukan apa saja yang mungkin dalam menghadapi katastrofi dasyat, sebagaimana gempa dan tsunami di Aceh Desember 2004 lalu, biasanya selalu mendekam pertanyaan besar; apa mau Tuhan dengan semua ini…” tulis Haidar Bagir dalam salah satu artikel di Kompas.
Jauh sebelum itu, tahun 1940-1945, di Jerman, sekitar 6 juta orang Yahudi tewas di dalam kamar gas atas perintah Hitler. Begitu banyak tragedi di masa silam, yang terjadi menimpa manusia. Pengalaman-pengalaman negatif tersebut sungguh membekas dalam benak kolektif kita sebagai manusia.
Menyimak begitu banyak fakta negatif penderitaan dalam hidup manusia, kita mungkin bertanya-tanya, dimana Tuhan, yang diyakini Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Kasih, ketika penderitaan berdarah tersebut terjadi? Pertanyaan itulah yang merangsang keheranan saya ketika pertama kali menulis paper ini. Berbagai argumen dan kontra argumen telah diajukan. Tapi, itu semua tidak dapat memuaskan keheranan dan rasa ingin tahu yang ada di dalam diri saya. Rasa heran, terkejut, sedih atas nasib manusia yang serba tidak jelas, atas fakta adanya manusia yang mampu melakukan kejahatan yang begitu besar, sehingga menciptakan penderitaan yang juga begitu besar bagi manusia lainnya. Keheranan dan keterkejutan akan melimpahnya kejahatan dan penderitaan yang ada di muka bumi ini mendorong saya untuk mempertanyakan kemahakuasaan Allah, kemaharahiman Allah. Mungkinkah ada Tuhan yang membiarkan adanya penderitaan di dunia ini? Jika kita menempatkan seluruh pertanyaan tersebut dalam konteks filsafat, pertanyaan tersebut menyangkut masalah teodisea, yakni masalah bagaimana memahami sifat keadilan Allah berhadapan dengan fakta adanya penderitaan.
Di sisi lain, kita dapat saja berpendapat bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang cukup penting untuk direfleksikan, apalagi kalau dikaitkan dengan pertanyaan tentang Tuhan. Setidaknya begitulah yang dikatakan oleh Rabbi E. Davidovic ketika ia di Auschwitz diajukan pertanyaan mengapa. Ia berkata, “…tidak. tidak. Saya sama sekali tidak berpikir tentang apa pun. Disana kami tidak berfilsafat. Kami hanya berupaya: bagaimana kami masing-masing dapat bertahan dari hari ke hari…”[3] Bagi dia, satu-satunya reaksi yang dapat dianggap sah ketika manusia berhadapan dengan penderitaan adalah berjuang memeranginya. Ketika tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, sang penderita haruslah bertahan dalam solidaritas dengan mereka yang menderita, itu tentunya kalau dia mau bertahan terus dalam penderitaannya. Walaupun begitu, peran refleksi dalam konteks ini tetaplah penting. Refleksi filosofis tentang penderitaan sama sekali tidak mau menggantikan peran praksis. Refleksi memiliki sumbangannya sendiri. Hal itu tentunya juga demi praksis yang lebih manusiawi dan konsisten. Peran refleksi tidaklah tergantikan, terutama ketika orang berhadapan dengan fakta adanya penderitaan.
Dari sudut teologi, persoalan teodisea sudah dibuka ketika kita membaca penderitaan yang dialami oleh seorang yang saleh. Orang itu adalah Ayub. Ayub berseru, “…Aku telah bosan hidup,…Aku berseru minta tolong kepadaMu, tetapi Engkau tidak menjawab; aku berdiri menanti, tetapi Engkau tidak menghiraukan aku… Anak panah dari Yang Mahakuasa tertancap dalam tubuhku… semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: Yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakanNya…”[4]
Epikuros merumuskan problem ini dengan, pada hemat saya, baik sekali. Dia menulis, “…Atau Allah mau meniadakan kejahatan tetapi Ia tidak dapat, atau Ia dapat tetapi tidak mau, atau IA tidak mau dan tidak dapat, atau Ia mau dan dapat melakukannya. Jika Ia mau, tetapi tidak melakukannya, berarti Ia lemah, tetapi itu tidak sesuai dengan hakekat Allah. Jika Ia dapat melakukannya, tetapi tidak mau, berarti Ia buruk hati; tetapi ini pun tidak sesuai dengan hakekat Allah. Jika Ia tidak mau dan tidak dapat, berarti Ia sekaligus buruk hati dan lemah; tetapi kalau begitu Ia bukan Allah. Bila ia mau dan dapat – memang begitulah seharusnya Allah- maka dari manakah asalnya kejahatan, dan mengapa Ia tidak menghapuskannya?”[5] Dengan ini, fakta bahwa penderitaan merupakan batu sandungan paling berat bagi mereka yang mau percaya kepada Allah tidak dapat diragukan lagi.
Filsafat sudah sejak lama bergulat dengan masalah ini. Dalam bukunya, Leahy berpendapat bahwa fakta bahwa dalam dunia ada kejahatan dan penderitaan merupakan sebab utama orang menjadi ragu-ragu apakah memang ada Allah yang baik, yang menciptakan dan memelihara alam raya dengan manusia yang ada didalamnya.[6] Seluruh masalah eksistensi Allah dan penderitaan manusia ini dapat dirangkum dalam satu pertanyaan, apakah sebab yang mendorong Allah untuk membiarkan adanya kejahatan dan penderitaan merajalela dalam dunia, yang kita percayai diciptakanNya?[7]
Leibniz menyebut masalah ini sebagai masalah teodisea. Kata teodisea ini berasal dari kata theos yang artinya Allah, dan dike yang artinya keadilan. Secara singkat dapat dirangkum sebagai, masalah pembenaran keadilan Allah. Mengapa kita mempersoalkan keadilan Allah dihadapan sidang manusia? Karena Allah dipahami sebagai pencipta alam raya bersama dengan manusia dan seluruh isinya, serta bertanggung jawab penuh akan dinamika dan keselamatan ciptaanNya. Pemahaman seperti itu tentunya bertabrakan dengan fakta bahwa ada begitu banyak kejahatan, keburukan, penderitaan yang berlangsung di dalam alam ciptaanNya itu, terutama yang dialami oleh mereka-mereka yang tak bersalah. Hal inilah yang sesungguhnya menjadi masalah utama. Apakah fakta seperti itu adil? Apakah Allah bisa dibilang maha adil jika Ia membiarkan kejadian-kejadian negatif tersebut terjadi?
Inti masalah penderitaan sebenarnya sudah sangat sempurna dirumuskan oleh Epikuros dalam kutipan diatas. Solusi atas masalah penderitaan juga tidak bisa begitu saja dilemparkan kepada manusia. Manusia tidak pernah dapat sempurna dalam melakukan suatu tindakan yang positif, selalu ada pamrih, ada kelemahan, ada kekurangan di berbagai celah. Manusia terbatas dalam kemampuan fisik, dalam kejernihan berpikir, dalam kedewasaan emosional, dan sebagainya. Oleh karena itu, manusia tidak akan pernah menjadi sempurna dalam semua tindakan yang dilakukannya. Hal itu tentunya berbeda dengan hakekat Allah. Allah, kalau dia memang ada, tidak terbatas sedikit pun. Dalam konteks inilah para filsuf, dalam kesepakatan dengan para teolog agama-agama teistik, sejak semula sudah menyetujui bahwa Allah itu adalah maha-tahu, maha-kuasa, maha-adil, maha-kasih, dan sebagainya.[8]
Dari titik inilah lahir pertanyaan, mengapa ada penderitaan? Apakah Allah tidak dapat mencipta dan mengembangkan manusia tanpa menyiksa manusia itu sendiri? Apakah Allah tidak dapat menciptakan alam semesta tanpa penderitaan? Apakah IA tidak dapat, atau tidak mau? Keduanya tidak dapat dibenarkan. Jack Miles merumuskan masalahnya begini, adanya penderitaan di dunia ciptaanNya merupakan masalah Allah yang paling besar.[9]
Persoalan tersebut semakin mendesak dengan nyatanya fakta bahwa begitu melimpahnya penderitaan yang ada di dalam dunia.[10] Hal itu juga bisa berarti, mengapa ada orang atau kelompok tertentu yang tertimpa penderitaan tanpa dapat mengalami hal positif sama sekali. Artinya, terlalu banyak penderitaan yang terjadi pada orang-orang yang tidak bersalah, terlalu banyak darah yang dicurahkan secara sia-sia oleh penderitaan. Fakta tersebut semakin mempersulit untuk menjelaskan mengapa Allah, yang diyakini maha-kuasa dan maha-kasih, membiarkan kejahatan dan penderitaan seperti itu berlangsung.
Yang harus diperhatikan adalah, bahwa masalah pembenaran keadilan Allah ini tidaklah muncul di lingkungan semua agama. Bagi masyarakat yang menganut pandangan dualisme, kita dapat melihat adanya prinsip baik dan prinsip buruk, sehingga penderitaa memang harus diandaikan ada. Masalah teodisea hanya muncul jika Allah dipahami sebagai realitas personal-dialogal, dan bila setiap orang secara personal memiliki nilai pada dirinya sendiri di hadapan Allah maupun manusia lainnya. Eksistensi penderitaan menjadi masalah ketika Allah dipahami sebagai realitas yang peduli pada manusia, yang adil, yang berbelas kasih, yang membebaskan, yang suka mengampuni, yang menyembuhkan. Atas dasar penghayatan Allah sebagai realitas yang menyelamatkan dan menyembuhkan inilah penderitaan atas manusia-manusia yang tak bersalah semakin tidak dapat dimengerti.
Berbagai Argumentasi yang Menolak Eksistensi Allah
Kalau kita mau menyimpulkan, perjalanan teodisea pada jaman modern akan bermuara pada penolakan secara radikal eksistensi Allah. Penolakan itu dilakukan lebih atas dasar kepantasan moral dari sudut pandang manusia. Bertitik tolak dari itu, Emmanuel Levinas mengatakan, “…kelemahan dan ketidakmahakuasaan Tuhan disini memiliki korban manusia yang sangat banyak. Pantaskan kita mengatakannya demikian?…Tahukah anda, saya tidak mengerti perihal kemahakuasaan Allah, sekarang ini, setelah Auschwitz… kataku: harganya terlalu mahal, dan korban itu bukanlah Allah, melainkan kemanusiaan… kenosis dalam ketidakmahakuasaan ini memakan terlalu banyak korban manusia…”[11]
human_suffering_142 Argumentasi yang senada, menolak kepantasan moral Allah, juga dapat kita temukan pada tulisan Ernst Bloch. Bagi Bloch, kisah Ayub dalam kitab suci dapat dimengerti sebagai sebuah pesan bahwa seorang manusia melampaui Allahnya karena kesadaran moralnya bertahan di hadapan Allah, yang notabene adalah hakim yang meragukan. “…Dalam kitab Ayub mulailah sebuah pembalikan nilai yang luar biasa…: seorang manusia dapat lebih baik, dapat berperilaku lebih baik daripada Allahnya… Kesadaran moral Ayub bertahan dihadapan Yahwe, Hakim yang meragukan…seorang manusia melampaui, ya mengatasi Allahnya (dari kaca mata moral), itulah logika kitab Ayub…”[12] Bloch ingin menegaskan bahwa setelah Ayub, setiap bentuk argumentasi pembenaran atas keadilan Allah menjadi meragukan. “…Allah yang sungguh-sungguh mahakuasa dan mahabaik tidak akan berdiam diri dan nampak lelah dan lemah. Baik terhadap pendosa, apalagi, sebagaimana ditunjukkan oleh Ayub- terhadap mereka yang benar dan adil…”[13] Apakah Allah dapat disebut kudus dan suci kalau ia, secara moral, lemah? Dapatkah Allah yang secara moral lemah dan ragu-ragu, tidak cukup tegas memihak yang lemah dan menderita, menjadi Allah bagi manusia?
Jawaban atas berbagai argumentasi diatas cukup jelas, bahwa Allah telah kehilangan kepantasannya untuk dipercaya di mata manusia, karena Ia berdiam diri ketika penderitaan terjadi di depan mataNya. Hal itu bertentangan dengan hakekatNya yang mahakuasa, Ia ternyata tidak mampu atau tidak mau mencegah ketidakadilan terhadap mereka-mereka yang tak bersalah, tidak mampu menghapuskan penderitaan. “…penolakan untuk melakukan intervensi sungguh tidak bermoral. Kendati saya ini mahluk terbatas, namun saya lebih bermoral daripada Dia, karena saya berontak terhadap situasi semacam itu. Sama saja kalau dikatakan bahwa IA tidak ada, sebab Allah yang tidak bermoral itu sama dengan ketiadaan Allah…”[14] Di titik inilah Stendhal merumuskan sebuah diktum termasyur yang konon membuat Nietzsche iri, “…Satu-satunya alasan untuk memaafkan Allah adalah dengan menegaskan, bahwa Ia tidak ada…”[15] Odo Marquard juga bependapat searah dengan Stendhal, bahwa demi kemuliaan Allah, sebaiknya Ia tidak ada saja. Dalam konteks ini sebenarnya mau ditegaskan bahwa yang menjadi subyek sejarah bukanlah Allah, melainkan manusia. Ini adalah konsekuensi logis dari optimisme modernitas pencerahan atas konsep emansipasi dan otonomi manusia. Manusia modern dengan otonomi dan rasionyalah, dan bukan Allah, yang akan membawa sejarah manusia menuju kesempurnaannya, yakni penghapusan segala bentuk penderitaan. Leahy merangkum gerak teodisea modern itu dengan baik sekali, “…Rasa berontak terhadap kejahatan telah menyebabkan orang menyangkal Tuhan, justru karena mereka percaya akan kemutlakkan kebaikan moral itu sendiri…” Leahy juga menambahkan, “…sedemikian transendenlah nilai moral itu, sampai orang ateis lebih suka menyangkal Allah daripada menlihat nilai moral berkompromi dengan kejahatan…kewajiban itu sedemikian kuatnya, sehingga orang merasa perlu menyangkal Allah atas nama kewajiban itu…”, dengan kata lain, “…seseorang menyangkal Allah untuk tetap setia kepada kemutlakkan nilai moral tersebut…”[16] Begitulah problem pembenaran keadilan Allah dapat diatasi dengan menghilangkan salah satu premis dasarnya, yakni eksistensi Allah. Dengan demikian, Allah telah mati.
Pertanyaan menentukan berikutnya adalah, apa yang terjadi setelah Allah mati? Pertanyaan tersebut semakin mendesak ketika dihadapkan pada fakta bahwa penderitaan ternyata tetap ada, bahkan penderitaan tersebut tampil dalam bentuk yang baru dan lebih mengerikan? Dengan menyatakan bahwa Allah telah mati, permasalahan teodisea tidak otomatis terselesaikan, manusia tidak otomatis terbebaskan. Ketika Allah dinyatakan mati, manusia kehilangan tempat tujuannya untuk berkeluh kesah, manusia kehilangan tempat untuk mendapatkan penghiburan dalam menghadapi penderitaan yang terjadi di dalam hidupnya. Siapa kini yang bertanggung jawab, setelah Allah disingkirkan, atas segala penderitaan yang tetap melimpah dalam sejarah manusia ini? Pencerahan telah membawa manusia untuk menempati tahta yang dulunya dipegang oleh Allah. Dengan paham emansipasi dan kebebasan, manusia kini berdiri sebagai subyek dari sejarah, dialah yang bertanggung jawab atas segala penderitaan, dan juga kemajuan kualitas kehidupan manusia yang terjadi di muka bumi ini. “…dengan demikian situasinya menjadi cukup pelik, bahkan tidak menentu lagi. Kemutlakan yang ilahi diganti dengan kemutlakan yang manusiawi, tapi zat mutlak baru ini tidak berdaya berhadapan dengan kejahatan, karena kejahatan itu sedemikian menggunung sehingga menimbulkan kekagetan dan rasa berontak…”[17] Manusia, yang kini menduduki tahta Allah itu, ternyata, “…sama sekali tidak memadai untuk menghadapi masalah kejahatan yang merupakan skandal: sebab manusia sama sekali bukan korban kejahatan tetapi juga pelaku kejahatan…”[18] Mungkin benar kata Nietzsche, tindakan kita membunuh Allah adalah tindakan yang terlalu besar bagi kita.
“…kemana sekarang dunia ini bergerak? Kemana kita bergerak? …Masih adakah atas dan bawah? Tidakkah kita menjadi tersesat dalam ketiadaan yang tanpa batas? Tidakkah kita terjerat di dalam ruang yang kosong? Tidakkah dunia kita menjadi lebih dingin? Tidakkah malam-malam kita menjadi lebih gelap?…bagaimana kita sang pembunuh Allah menghibur diri kita sendiri? Yang mahasuci dan mahakuasa yang sampai kini dimiiki dunia, telah berlumuran darah karena pisau kita…tidakkah perbuatan ini terlalu besar untuk kita? Tidak ada perbuatan yang lebih besar?…” demikian tulis Nietzche.[19]
Filsuf yang banyak membicarakan tema ini adalah Albert Camus. Bagi dia, hidup di dunia ini sangatlah terbatas, bahkan bisa dikatakan bahwa hidup ini absurd. Akan tetapi, absurditas hidup itu sama sekali tidak boleh dihadapi dengan keputusasaan, sebaliknya hidup harus dihadapi dengan sikap heroik. Harus diakui, kita bisa saja mengatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah mitos-mitos dimana begitu banyak kenyataan pahit yang menimbulkan penderitaan disembunyikan. Sejak abad ke-18, hilangnya mitos-mitos itu telah membawa perubahan besar pada seluruh cara manusia memandang dunianya, karena kematian kini menjadi tanpa harapan, tanpa makna. Di titik itulah Camus mengajak kita untuk menerima kematian yang tanpa harapan dan tanpa makna itu dengan lapang dada, menerima keterbatasan kita tanpa jatuh ke dalam keputusasaan.[20]
Dalam novelnya yang berjudul Sampar, Camus melukiskan salah seorang tokohnya, yakni Dr. Rieux, sebagai seorang dokter yang terus berjuang sekuat tenaga untuk mengatasi wabah sampar, walaupun dia tahu bahwa pada akhirnya semua usahanya akan sia-sia juga. Dengan kata lain, walaupun dia tahu bahwa dia akan kalah, Dr. Rieux tetap saja terus melakukan apapun yang dapat dilakukan untuk mengatasi wabah sampar tersebut.
Dalam kaca matanya, sampar bukanlah hanya sekedar penyakit, atau wabah. Hidup ini sendiri adalah sampar! “…satu kegagalan yang terus menerus…”[21] itulah makna sampar bagi Dr. Rieux. Hidup ini memang absurd, tapi idealisme moral untuk terus berjuang tetaplah harus dipertahankan. Oleh karena itu, Dr. Rieux tetap bertahan dalam upayanya memerangi sampar, walaupun ditinggalkan oleh teman-temannya. Ketika salah seorang sahabatnya mengingatkan bahwa perjuangan melawan “…akan selalu bersifat sementara saja, begitu saja…”[22] Dr. Rieux menyetujuinya sambil menambahkan, “…tetapi itu bukan alasan untuk menghentikkan perjuangan…”[23] Nilai-nilai moral harus tetap diperjuangkan, walaupun dunia ini sebagai keseluruhan adalah absurd dan tanpa makna. Inilah inti dari nilai heroik yang dithawarkan Camus.
Heroisme seperti itu memang sangat mengagumkan. Akan tetapi, dapat dipastikan akan segera muncul pertanyaan seperti ini di dalam benak kita, berhadapan dengan absuditas hidup manusia, dengan fakta bahwa satu-satunya yang pasti adalah fakta bahwa kita akan terus gagal, akankah klaim etis dengan perjuangan nilai-nilai moralnya layak untuk dihayati dan dihidupi? Mampukah kita mempertahankan solidaritas kita dengan mereka yang menderita, terutama ketika kita mengetahui bahwa solidaritas itu pun pada akhirnya akan sia-sia saja? Masihkan kita memiliki kekuatan untuk berjuang, ketika absurditas eksistensi manusia ternyata begitu definitif? Jawaban yang mungkin muncul mungkin adalah tidak, manusia tidak akan mampu bertahan. Tanpa harapan dan makna akan Allah, yang akan menyempurnakan segalanya, ia tidak akan mampu bertahan menghadapi begitu melimpahnya penderitaan. Solidaritas terhadap mereka yang menderita rupanya menuntut suatu harapan dan makna yang tidak dapat diperolehnya sendiri, melainkan hanya didapatkan dari Allah.
Jawaban Teodisea Klasik dan Keterbatasannya
Ada yang berpendapat bahwa penderitaan haruslah ditempatkan di dalam keseluruhan realitas. Dengan demikian akan kelihatan, bahwa ia memang perlu ada, antara lain demi kebaikan dan terang yang lebih besar. Ibaratnya sebuah lukisan, keindahan justru didapatkan kalau kita memasukkan warna gelap ke dalam lukisan itu. Filsuf Perancis Rene Descartes pernah berkata, “…sesuatu itu bisa tampak sangat tidak sempurna bila berdiri sendiri. Tetapi hal yang sama akan kelihatan sangat sempurna bila dilihat sebagai bagian dari alam semesta…”[24] Atau, kita bisa melihat argumentasi yang dirumuskan oleh Leahy, “…kejahatan kehilangan sifat jahatnya bila diletakkan dalam perspektif perkembangan total: penderitaan tidak lain selain krisis pertumbuhan: peperangan adalah benih lahirnya sejarah; pengorbanan yang dilakukan generasi sekarang memungkinkan kelanjutan eksistensi masyarakat di masa datang…”[25] Dengan kata lain, disini penderitaan dan kejahatan dilihat sebagai sesuatu yang positif karena ditempatkan di dalam keseluruhan realitas. Akan tetapi, kita akan segera melihat bahwa, argumentasi tersebut tidaklah mencukupi karena dangkal dan tidak sesuai dengan kesadaran moral kita jika berhadapan dengan paham yang menempatkan manusia sebagai subyek, yang tidak pernah boleh dijadikan sebagai alat untuk mencapai sesuatu di luar dirinya, serta juga gagasan tentang Allah yang mencintai setiap pribadi manusia.
suffer Kita akan menemukan argumentasi yang senada dalam pemikiran Leibniz. Bagi Leibniz, dalam segala kebijaksanaanNya yang tak terhingga, Allah tentu saja tahu berbagai macam kemungkinan dunia yang dapat diciptakan. Nah, karena Ia sekaligus mahakuasa dan mahabaik, maka dunia yang sudah diciptakan ini adalah dunia paling baik yang mungkin diciptakan, sebuah dunia yang paling baik yang mungkin. Maka dari itu, setiap penderitaan haruslah diintegrasikan dalam keseluruhan dunia yang baik itu. Kritik pun masih tetap dapat dilontarkan, yakni manusia saja masih dapat membayangkan dunia yang lebih sempurna, terutama dunia dimana sama sekali tidak ada kejahatan dan penderitaan, serta segala sesuatu yang negatif. Menanggapi hal itu, Leibniz dengan baik sekali menulis, “…memang, orang dapat membayangkan adanya dunia tanpa kejahatan dan tanpa penderitaan…, sebagaimana dilukiskan dalam roman-roman utopis… tetapi dunia seperti itupun tidak lebih baik dari dunia kita. Saya tidak akan membuktikannya secara rinci. Bagaimana saya dapat melukiskan yang tak terbatas serta mengenalinya dan membandingkannya? Tetapi, kita harus setuju, bahwa Allah telah memilih menciptakan dunia ini sebagaimana ia ada. Kita tahu juga, bahwa seringkali sebuah kejahatan menghasilkan kebaikan yang tidak akan ada tanpa adanya kejahatan itu…”[26]
Dengan demikian, ada kebaikan yang dihasilkan keburukan-keburukan itu. Ada yang positif dari sesuatu yang negatif. Oleh karena itu, dunia yang memiliki hal-hal negatif didalamnya mempunyai hal-hal positif lebih banyak daripada dunia yang sama sekali tidak memiliki unsur-unsur negatif. Sayangnya, menurut saya, argumentasi seperti ini tidak akan banyak berbunyi di telinga orang yang menderita. Bahkan juga dapat ditafsirkan bahwa Leibniz mendorong orang untuk berpaling dari kenyataan keras penderitaan, atau untuk menutupi ciri-ciri skandal dari penderitaan. Selain itu, kita juga tidak akan menemukan pertimbangan-pertimbangan yang lebih mendetail dari persoalan mengapa orang harus menderita.
Masih ada argumentasi lain yang cukup layak untuk dipertimbangkan, yakni rasa sakit dan penderitaan fisik pun dapat berguna bagi perkembangan biologis kemudian. Pengalaman pahit pun dapat memurnikan hati orang dan membuatnya semakin dewasa. Tentu saja harus diakui bahwa pengalaman sakit dapat menimbulkan keberanian untuk bangkit. Kesalahan sekarang dapat menjadi peringatan untuk terus menjadi lebih baik di kemudian hari. Sejarah pun sudah menunjukkan, banyak orang justru mengalami perkembangan rohani karena ia terlebih dahulu telah mengalami penderitaan. Jawaban tersebut memang menarik untuk ditanggapi. Akan tetapi, kita juga masih dapat mengajukan pertanyaan. Mengapa peringatan tersebut harulah bersifat negatif dan menyakitkan? Bukankah penderitaan seringkali juga dapat meremukkan seseorang? Pertanyaan mengapa tidak semua orang mengalami penderitaan yang sama beratnya pun tidak akan terjawab.
Masih ada argumentasi lain, yakni bahwa Allah sebenarnya tidak menghendaki kejahatan dan penderitaan. Ia hanya mengizinkannya. Dalam beberapa segi, argumen ini mengandung kebenaran tertentu. Tetapi kita juga dapat bertanya, faktor apa yang begitu penting sehingga Allah terpaksa mengizinkan sesuatu yang notabene tidak dikehendakiNya? “…sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntutan suara hati atau rasa moral manusia mau diperbolehkan agar Tuhan melaksakannya… Bukankah semua ini agak berlebihan? Dan si ateis akan mengatakan, seseorang yang menolak kejahatan karena dia bermoral lebih superior daripada Tuhan yang malah mentolerir kejahatan itu…”[27]
Demikianlah kiranya sejumlah bentuk argumentasi teodisea klasik yang mau memecahkan problem penderitaan dalam relasinya dengan Allah. Dalam beberapa sisi, argumen-argumen tersebut mengandung kebenaran-kebenaran tertentu. Akan tetapi, masalah sesungguhnya tetap tak terpecahkan. Penderitaan dan kejahatan yang begitu melimpah tetaplah fakta realitas manusia yang tak masuk akal, absurd. “…ada terlalu tindakan biadab yang dilakukan manusia dan tidak dapat dijelaskan oleh siapapun dalam sejarah umat manusia. Ada terlalu banyak orang yang tidak bersalah menderita, penderitaan yang tidak bermakna, sehingga kita tidak dapat lagi secara etis, hermeneutis, ataupun ontologis membuat rasionalisasi atas penderitaan itu…sejarah adalah suatu ekumene penderitaan…”[28] Jika fakta melimpahnya penderitaan dipahami sebagai bentuk untuk menyinkronkan kebaikan, keadilan, dan kemahakuasaan Allah, maka teodisea akan berakhir dalam kegagalan. Immanuel Kant pun berpendapat bahwa akal budi kita pun tidaklah mampu memahami relasi-relasi antara dunia yang kita kenal melalui pengalaman dengan kebijaksanaan tertinggi. Setelah ini semua, apakah argumentasi untuk mendamaikan penderitaan manusia dan eksistensi Allah telah terhenti?
Menuju Pendekatan yang Integral atas Penderitaan
Sebenarnya tidak perlu bencana besar untuk menggoncangkan kepercayaan orang pada adanya Tuhan. Kadang kala, kegagalan pekerjaan, penyakit, rasa kehilangan, pengkhianatan, atau kematian orang yang dikasihi dapat menjadi cukup untuk menjadikan orang ateis. Salah contoh yang paling jelas adalah ketika Harold Kushner, seorang rabi Yahudi, menulis buku yang terkenal setelah ia mengalami kematian anaknya. Judul buku itu adalah, When Bad Things Happen to Good People. Dalam buku itu, ia mengusulkan agar paham tentang kemahakkuasaan Tuhan sebaiknya dihilangkan saja. Akan tetapi, kita bisa membayangkan sebaliknya: When Good Things Happen to Bad People, ia barangkali akan mengusulkan agar pertanyaan-pertanyaan tentang keadilan Allah sebaiknya ditolak saja. Di pihak lain, kita dapat menemukan berbagai upaya, baik itu filosofis maupun teologis, untuk merasionalisasikan penderitaan. Akan tetapi, pemaknaan mengenai penderitaan dan eksistensi Allah tidak bisa melulu dipahami secara teoritis, melainkan dengan pendekatan praktis.
Tidak ada penjelasan teoritis yang memuaskan untuk menyingkapi pelbagai penderitaan dan kejahatan yang begitu melimpah di dunia ini. Penderitaan sebagai realitas negatif adalah fenomena manusia yang tidak terselami, betapapun kita mencoba menerangkannya dengan pelbagai teori religius ataupun non-religius yang ada pada kita. Masalah eksistensi Allah dan penderitaan absurd yang dialami manusia tetap tersembunyi, kalau tidak mau diabaikan, baik bagi orang beriman ataupun orang ateis.
Maka, ketika kita berhadapan dengan penderitaan, harus diterima bahwa ia adalah fakta hidup yang kini painada, pernah ada, dan akan selalu ada, terlepas dari apakah orang mau menerima eksistensi Allah atau tidak. Jika berhadapan dengan penderitaan sebagai fakta hidup, kaum beriman ataupun ateis selalu bertanding remis. Artinya, masalah mengapa penderitaan ada, tidak bisa dipecahkan dengan menerimanya adanya Allah (pihak teis, atau kaum beriman), maupun dengan menolak adanya Dia, dimana mereka, kaum ateis, tidak bisa menjelaskan mengapa dunia dengan penderitaan tidak menjadi lebih baik dengan hanya mencoret Tuhan. Penderitaan pun tetap menjadi teka-teki bagi kehidupan manusia, terlepas apakah dia seorang beriman atau tidak.
Dengan memahami penderitaan sebagai fakta hidup yang penuh misteri, ia juga perlu dihadapi dengan realistis, dan dengan sikap respek terhadap hidup. Artinya, penderitaan tidak perlu dicari-cari, melainkan diterima dengan lapang dada ketika ia datang menimpa. Sebagai sebuah fakta hidup, penderitaan pada dirinya sendiri tidaklah bernilai, maka sikap mencari-cari penderitaan adalah perversi hidup. Penderitaan tidak hanya ditanggung atau diterima, melainkan juga diperangi dan diatasi dengan sekuat tenaga yang ada pada kita. Panggilan dalam menanggapi penderitaan adalah panggilan manusia untuk berpraksis. Praksis tersebut dapat terwujud dalam upaya untuk mencari akar dan sumber dari penderitaan tersebut, baik pada level individual maupun level struktural, yang lalu ditangani secara konkret. Dengan kata lain, “…yang tertindas dibebaskan, yang lapar dikenyangkan, yang sakit disembuhkan, yang miskin dijadikan sejahtera, yang bersedih hati dihibur dan didampingi dengan rasa keterlibatan…”[29]
Pada satu titik, perjuangan menentang penderitaan dan ketidakadilan kerap menemui jalan buntu. Di titik inilah penderitaan dan ketidakadilan tidak hanya perlu diatasi atau diperangi, melainkan juga diolah dan diintegrasikan. Artinya, penderitaan tersebut dilihat dan dirangkum sebagai satu kesatuan menyeluruh menyangkut seluruh dimensiku. Dengan kata lain, “…penderitaan kuterima dan kuakui sebagai bagian faktual dari caraku menghayati hidup dengan segala misterinya, caraku melihat dunia, bekerja dan bertindak, entah sebagai syarat, entah sebagai konsekuensi dari, misalnya, perjuanganku demi sesuatu yang bersifat mutlak…”[30]
Manusia memerlukan kesabaran dan ketabahan hati untuk menerima dan menanggung penderitaan. Jika sudah seperti itu, ia akan tumbuh dan berkembang melalui penderitaan itu. Manusia yang selalu beruntung dalam hidupnya tidak akan pernah ditempa menjadi manusia yang kuat dan utuh. Tanpa tempaan, ia akan menjadi dangkal dan tidak bisa berkembang ke arah yang lebih baik. Bersama Karl Jaspers, penderitaan dilihat dan dimaknai sebagai situasi batas, yang membawa manusia kepada transendensi Tuhan. Dengan demikian, orang yang mengalami penderitaan bisa berkata, “…penderitaanku tidak lagi secara kebetulan merupakan nasib buruk belaka, melainkan mulai munculnya eksistensi melalui dasein…”[31]
Kiranya jelas pada tahap terakhir ini, bahwa pengalaman akan Tuhan, akan yang Transenden, memberikan sumbangan besar bagi manusia untuk memahami penderitaan dan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan hidupnya. Suatu kepercayaan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segala-galanya, bahwa masih ada harapan akan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik, juga bahwa “…kerinduan akan yang serba lain…”, seperti ditulis oleh Max Horkheimer, akan menemukan kepenuhannya.
Kesimpulan dan Penutup
Penderitaan manusia dan eksistensi Allah bukanlah sesuatu yang selayaknya dipertentangkan. Dalam penderitaan, manusia membukan dimensi terhadap yang transenden, ia membuka pintu bagi transendensi. Kendati mengalami penderitaan, banyak orang, meskipun tidak selalu, tetap memiliki kepercayaan dan harapan kepada Allah. Dengan demikian, eksistensi Allah tidaklah dapat dipahami sebagai entitas yang mengintervensi kehidupan manusia dan serta-merta mencegahnya mengalami penderitaan, melainkan sebagai sebuah kekuatan dengan kemahakuasaan dan belaskasihNya untuk membantu manusia memahami dan mengintegrasikan penderitaan dalam hidup ke dalam keseluruhan eksistensinya. Argumentasi ini tidak dapat sepenuhnya memuaskan kerinduan intelektual kita untuk memahami eksistensi Allah di tengah melimpahnya penderitaan di dunia. Akan tetapi, sebagai sebuah usaha filosofis, argumen tersebut bisa ditempatkan sebagai sebuah kontribusi dalam debat teodisea yang sampai sekarang masih berlangsung. Seperti semua pertanyaan menuntut jawaban, yang notabene jawaban tersebut akan membuka pertanyaan yang lebih banyak lagi, tulisan ini diharapkan akan membuka pertanyaan lebih jauh tentang teodisea. Terima kasih.
Daftar Pustaka
A. Sunarko, “ Teodisea, Antropodisea, Anti-Teodisea? Allah, Manusia, dan Penderitaan”, Diskursus, Vol.4, no. 3, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, hal. 215.
L. Leahy, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta, Kanisius, 1994, hal. 272.
F. Magnis Suseno, “Mendakwa Allah? Catatan Tentang Teodisea”, Diskursus
Jack Miles, Christ. A Crisis in the Life of God, New York, Alfred A. Knopf, 2001.
L. Leahy, Esai Filsafat untuk Masa Kini. Telaah Masalah Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Baru, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1991.
F. Nietzsche, “Ecce Homo,” dalam Friedrich Nietzsche. Studienausgabe, Band 4, Frankfurt, Fischer Bücherei,
A. Camus, Sampar, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1985
S.P. Lilik Tjahjadi, Atheisme Modern, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, (tidak dipublikasikan),
Gambar dari Google Pictures
Sudah dipublikasikan di www.dapunta.com
Penulis adalah Pengajar Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya

[1] Max Horkheimer, Die Sehnsucht nach dem ganz Anderen, Hamburg, Furche-Verlag, 1971, S.60, seperti dikutip oleh A. Sunarko, “ Teodisea, Antropodisea, Anti-Teodisea? Allah, Manusia, dan Penderitaan”, Diskursus, Vol.4, no. 3, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, hal. 215.
[2] Roger Ikor dalam pekan cendekiawan Katolik 1965, seperti dikutip oleh L. Leahy, Filsafat Ketuhanan Kontemporer, Yogyakarta, Kanisius, 1994, hal. 272.
[3] J. –H. Tück, Christologie und Theodizee bei Johann Baptist Metz. Ambivalenz der Neuzeit im Licht der Gottesfrage, München, Schoeningh, 1999, S. 262. seperti dikutip oleh A. Sunarko, op.cit, hal. 208.
[4] Ayub 10, 1; 30, 28; 6, 4; 9, 22.
[5] Epikuros, Brief an Menoeikeus (Surat Kepada Menoeikeus), fragmen no. 106, dalam: Griechische Atomisten, diterjemahkan oleh F. Jürss, R Müller, Leipzig, 1977, hal. 334. seperti dikutip oleh S. Lilik Tjahjadi, Diktat Ateisme Modern (tidak dipublikasikan), STF Driyarkara, 2005. hal. 2.
[6] L. Leahy, op.cit, hal. 269.
[7] F. Magnis Suseno, “Mendakwa Allah? Catatan Tentang Teodisea”, Diskursus, op.cit, hal. 233.
[8] Ibid, hal. 234.
[9] Jack Miles, Christ. A Crisis in the Life of God, New York, Alfred A. Knopf, 2001, seperti dikutip oleh F. Magnis Suseno, op.cit, hal. 234.
[10] L.Leahy, op.cit, hal. 276.
[11] M. Striet, “ Versuch über die Auflehnung. Philosophisch-theologische Überlegungen zur Theodizeefrage”, pada H. Wagner, Mit Gott streiten. Neue Zugaenge zum Theodizeeproblem, Freiburg, Herder, 1998, S. 51. seperti dikutip oleh A. Sunarko, op.cit, hal. 214.
[12] E. Bloch, Atheismus im Christentum. Zur Religion des Exodus und des Reichs, Hamburg, Rowohlt Verlag, 1970, S. 106-107. seperti dikutip A. Sunarko, ibid.
[13] Ibid, S. 116.
[14] L. Leahy, Esai Filsafat untuk Masa Kini. Telaah Masalah Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Baru, Jakarta, Pustaka Utama Grafiti, 1991, hal. 133-134
[15] Bagi Nietzsche, ini adalah lelucon terbaik para ateis. “…Vielleicht bin ich selbst auf Stendhal neidisch? Er hat mir den besten Atheisten-Witz weggenommen, den grade ich hätte machen können: die einzige Entschuldigung Gottes ist, dass er nich existiert… Ich selbst habe irgendwo gesagt: was war de größte Einwand gegen das Dasein bisher? Gott…” F. Nietzsche, “Ecce Homo,” dalam Friedrich Nietzsche. Studienausgabe, Band 4, Frankfurt, Fischer Bücherei, S. 143-218; 162.
[16] L. Leahy, Esai Filsafat untuk Masa Kini, op.cit, hal. 126,131,133.
[17] Ibid, hal. 136.
[18] Ibid, hal. 138.
[19] F. Nietzsche, Die Fröchliche Wissenschaft, Leipzig, Reclam-Verlag, 1990, S. 130. seperti dikutip oleh A. Sunarko, op.cit, hal. 217.
[20] M. Striet, Der Neue Mensch, Unzeitgemäβe Betrachtungen zu Sloterdijk und Nietzche, Frankfurt, Verlag Josef Knecht, 2000, S.103. seperti dikutip A. Sunarko, op.cit, hal. 218.
[21] A. Camus, Sampar, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1985, hal. 111.
[22] Ibid.
[23] Ibid.
[24] L.Leahy, Esei Filsafat untuk Masa Kini, op.cit, hal. 116.
[25] Ibid.
[26] J. Schmidt SJ, “Das Philosophieeimmanente Theodizeeproblem und seine theologische Radikalisierung”, Theologie und Philosophie 72 (1997), S. 250.
[27] L. Leahy, op.cit, hal. 18.
[28] E. Schillebeeckx, Christus und die Christen. Die Geschichte einer neuen Lebenpraxis, Freiburg, Herder, 1977, S. 706. seperti dikutip dari A. Sunarko, op.cit, hal. 213.
[29] S.P. Lilik Tjahjadi, Atheisme Modern, Jakarta, STF Driyarkara, 2005, (tidak dipublikasikan), hal. 52.
[30] Ibid.
[31] Ibid.

Buku Filsafat Terbaru: Dunia Dalam Gelembung

 
Document1 Karya: Reza A.A Wattimena
Buku ini adalah suatu upaya untuk memahami apa yang terjadi dengan Indonesia dewasa ini, terutama dilihat dari sudut filsafat dan ilmu- ilmu sosial lainnya. Di dalam buku ini, saya mengajukan satu argumen, bahwa Indonesia terjebak dalam gelembung-gelembung realitas, sehingga kehilangan pijakan pada realitas yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, gelembung adalah elemen yang menghalangi pandangan kita atas kenyataan yang sebenarnya. Yang terlihat kemudian adalah versi lebih (hiperbolis) dari kenyataan itu.

Maka dari itu, kita harus berani memecah gelembung-gelembung yang menutupi realitas, dan melihat realitas itu secara langsung. Dengan kata lain, kita harus memecah berbagai gelembung realitas yang ada, mulai dari gelembung politik, gelembung pendidikan, gelembung ekonomi, gelembung budaya, dan gelembung pemikiran, sehingga bisa sampai pada realitas yang sesungguhnya, dan tak lagi terjebak pada kebohongan- kebohongan. Itulah yang saya coba lakukan dengan menulis buku ini.
Buku bisa didapatkan di:
Untuk para Pengguna iPhone dan iPad di link berikut: iTunes
Untuk yang lainnya, bisa dilihat di link berikut: dunia-dalam-gelembung

Bunuh Diri Sosial dan Krisis Logos

Manusia memang akan punah. Apa yang pernah ada, pasti suatu saat akan punah. Itu adalah hukum baja sejarah yang tak bisa dihindari. Pertanyannya kemudian, kapan kita akan punah? Menyimak beragam gejala dunia, rupanya waktunya tidak akan lama lagi.
Penyebabnya adalah diri kita sendiri. Sebagai satu spesies, kita seolah melakukan bunuh diri sosial, yakni bunuh diri spesies kita sendiri sebagai manusia. Kita saling membunuh. Kita merusak alam. Segala yang kita lakukan seperti tak habis-habisnya berusaha membunuh spesies kita sendiri.
Di Indonesia, korupsi bagaikan kanker yang merusak segalanya, mulai dari keadaan keuangan bangsa, sampai dengan moral hidup sehari-hari. Kekerasan dan ketidakmampuan hidup dalam perbedaan sudut pandang melahirkan perang dan penderitaan bagi semua. Konflik antar agama dan antar kelompok membuat hidup bersama menjadi amat sulit. Aku korupsi, maka aku ada, itulah kiranya yang menjadi semboyan sehari-hari para pejabat politik, hukum, maupun ekonomi kita di Indonesia.

Filsafat Cinta

Setiap orang pasti pernah pacaran, setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap suami pasti pacaran dulu dengan calon istrinya. Setelah mantap, baru mereka menikah. Kalo tidak mantap, yah putus, dan cari pacar lagi. Saya juga yakin, anda pasti pernah pacaran sebelumnya. Ya kan?
Setiap orang juga tahu, bahwa komponen terpenting dari pacaran adalah cinta. Ya, cinta! Namun, banyak orang kesulitan, ketika diminta menjelaskan, apa itu cinta? Ratusan pemikir dan ilmuwan mencoba mendefinisikan arti kata itu. Namun, tak ada yang sungguh bisa menjelaskannya. Atau, jangan-jangan cinta itu hanya bisa dirasa, tapi tak bisa dijelaskan dengan kata-kata? Bagaimana menurut anda?
Yang saya tahu, cinta itu punya enam komponen. Anggaplah saya punya teori sendiri tentang cinta, semacam filsafat cinta. Enam komponen itu adalah hasrat, kehadiran, komitmen, akal budi, berkembang, dan paradoks. Bingung? Tenang.. saya akan jelaskan satu per satu.
Hasrat
Komponen pertama dari cinta, menurut saya, adalah hasrat. Hasrat adalah keinginan yang membakar hati, dan mendorong kita untuk bertindak. Hasrat adalah sumber dari dorongan hidup manusia, yang membuat kita bangun di pagi hari, dan mulai melakukan aktivitas. Pada saat ini, saya yakin, anda sedang berhasrat untuk membaca tulisan saya. Iya kan? Hayoo ngaku…
Sekitar 50 tahun yang lalu, Jacques Lacan, seorang pemikir asal Prancis, pernah menulis, bahwa manusia adalah mahluk yang berlubang. Hah, berlubang? Bukan berlubang secara fisik, tetapi ia memiliki lubang dalam jiwanya yang terus menuntut untuk diisi. Isinya bisa macam-macam, mulai diisi dengan barang-barang mewah, teman, keluarga, cinta, dan sebagainya. Apakah anda punya lubang semacam itu di hati anda?
Pada hemat saya, Lacan betul. Saya sendiri merasakannya. Bagi saya, lubang dalam jiwa itu adalah sumber dari segala hasrat manusia. Artinya, keinginan dan dorongan hidup manusia berakar pada upaya manusia untuk mengisi lubang yang ada di dalam jiwanya. Saya menyebutnya sebagai “rumah hasrat”. Menarik bukan?
Saya pernah jomblo (ga punya pacar) cukup lama. Rasanya hampa. Hati kosong. Malem Minggu sepi. Mau curhat (curahan hati), tapi ga ada yang bisa diajak curhat. Akhirnya, di dalam hati muncul keinginan (hasrat) untuk mencari pacar lagi. Mirip seperti lagunya ST12 yang sempat terkenal, “cari pacar lagi…”
Setelah bergaul dan membuka lingkungan pergaulan baru (anak gaul nih ceritanya), saya pun mendapatkan pacar baru. Hati senang. Namun, itu tak lama. Si lubang (rumah hasrat) dalam diri kembali berteriak-teriak. Saya ingin pacar saya seperti ini, seperti itu. Tidak cocok. Putus lagi. Hampa lagi. Sedih lagi… hiks…
Dugaan saya, anda pun pernah mengalami seperti itu. Ga pacaran kesepian, tapi pacaran justru pusing dan repot. Manusia memang tak pernah puas, karena ia punya lubang hasrat di dalam dirinya yang menuntut untuk terus diisi, tanpa pernah sungguh penuh terisi. Artinya, kita seumur hidup selalu dibayangi oleh kecemasan untuk memenuhi hasrat kita. Tul ga?
Kata ajaran Buddha, lubang ini bisa dilenyapkan, dan manusia lalu bisa sampai pada kedamaian sempurna. Ajarannya kelihatan baik. Namun, menurut saya, justru hasrat ini yang membuat kita ini manusia, yang membuat kita ini hidup. Kalau dihilangkan, lalu kita ini apa namanya? Tidak tahu. Yang pasti bukan manusia. Robot? Mayat hidup? Hiii… Tidak bermaksud menghina ya. Bagaimana pendapat teman-teman yang mendalami ajaran Buddha?
Oke.. oke.. kembali ke tema utama. Jadi pada hemat saya, salah satu komponen utama cinta adalah hasrat, dan hasrat itu sudah selalu ada dalam diri manusia, apapun agama, ras, ataupun etnisnya. Hasrat yang mendorong kita untuk mencintai, pacaran, menikah, punya anak, dan sebagainya. Hasrat yang mendorong kita untuk hidup. Tanpa hasrat, kita bagaikan mayat hidup berjalan. Udah ah.. jangan ngomong mayat-mayat lagi.. serem…
Kehadiran
Komponen kedua, menurut saya, adalah kehadiran. Cinta itu butuh kehadiran, baik kehadiran fisik, maupun kehadiran hati. Orang yang mencintai harus “hadir” dengan seluruh dirinya untuk yang dicintai, untuk menemani, membantu, dan berjalan bersama dengan orang yang dicintainya. Kalo tidak hadir, maka apa gunanya pacaran, apa gunanya mencintai? Itu sama saja dengan “tidak mencintai” atuh. Ya kan?
Makanya, saya selalu kagum dengan orang-orang yang bisa pacaran jarak jauh, apalagi suami istri yang berhubungan jarak jauh. Kehadiran fisik hanya mungkin pada saat-saat tertentu saja, seperti pada saat liburan atau cuti. Yang mengikat mereka adalah kehadiran hati. Artinya, tubuhku jauh, tapi hati dan pikiranku bersamamu. Romantis ya? Cihuy…
Saya sering melihat, ada orang pacaran, tapi yang satu sibuk main Blackberry, yang satu sibuk main notebook. Mereka tidak bicara. Mereka tidak saling menatap. Lah, apa gunanya ketemu? Mereka pacaran, tetapi mereka tidak hadir untuk satu sama lain. Apa itu namanya? Temannya juga bukan pasti. Apakah anda seperti itu juga?
Saya juga sering marah, kalau berjumpa dengan teman, tetapi ia sibuk main Blackberry. Fisiknya ada di depan saya, tetapi perhatiannya entah kemana. Saya merasa diabaikan, ga dianggap manusia, tetapi cuma dianggap benda saja. Siapa yang tidak marah, kalau diperlakukan seperti itu?
Melihat itu semua, saya janji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan memberikan perhatian penuh pada orang lain, jika mereka berbicara kepada saya. Saya tidak sibuk main BB, main notebook, atau main apapun. Saya akan mendengar, dan menanggapi, kalau diminta. Semoga janji saya ini juga bisa menginspirasikan anda untuk membuat janji yang sama kepada diri anda sendiri. Semoga….
Jadi intinya, orang pacaran itu harus punya cinta, dan cinta itu tandanya adalah kehadiran, baik kehadiran badan, hati, maupun pikiran. Tanpa kehadiran, pacaran itu cuma basa-basi, formalitas, atau sekedar menaikan status sosial. Kalau itu yang terjadi, semuanya jadi sia-sia. Kita jadi orang dangkal yang tak punya idealisme. Jangan jadi seperti itu ya… plis..
Komitmen
Komponen ketiga dari cinta, menurut saya, adalah komitmen. Komitmen adalah kesetiaan pada janji. Bukan hanya setia, tetapi janji itu dijalankan, ditepati, sampai sedetil-detilnya, dan jangan ditawar-tawar, kalau sudah disepakati. Ya ga?
Kok otoriter banget? Ga juga. Diskusi dan debat itu boleh dilakukan, sebelum janji dibuat. Tetapi ketika janji sudah disepakati, yah jangan ditawar lagi untuk membenarkan pelanggaran. Itu ndablek namanya. Hehehe…
Suatu saat, janji bisa berubah. Namun, sebelum janji berubah, harus ada pembicaraan dulu yang intensif, yang sering. Jangan tiba-tiba, salah satu pasangan ingin mengubah perjanjian, lalu semua berubah seenaknya. Yang penting, ketidaksepakatan itu dibicarakan. Bicara donk… jangan diam saja…
Saya sendiri juga bukan orang yang selalu tetap janji. Saya pernah melanggar janji. Tapi, saya sadar, dan kemudian berubah. Niat berubah pun belum tentu mengubah tindakan. Butuh waktu lama, sebelum niat sungguh menjadi kenyataan. Beberapa kali, saya dimarahi atau ditegur oleh pacar saya, karena tidak tepat janji. Maklum, namanya juga manusia. Yang penting kan ga diulangi lagi… hehehe..
Saya juga pernah punya pacar yang janjinya banyak, tetapi sering banget dilanggar. Akhirnya, kita berantem terus. Hubungan bukan lagi menjadi hiburan dan penguat, tetapi justru menjadi beban yang memberatkan. Susah kalo kita punya hubungan seperti ini. Bagaimana dengan kisah anda?
Pokoknya, cinta itu harus diikat dengan komitmen, baru sungguh menjadi cinta sejati yang menjadi penguat kehidupan, dan sumber kebahagiaan. Cinta tanpa komitmen itu seperti sambal tanpa cabe, artinya yah bukan sambal sama sekali. Ga ada gunanya. Masing-masing cuma menipu diri. Kita tidak hanya menipu orang lain, dengan mengaku mencintai dia, tetapi juga menipu diri sendiri. Kasiaaan banget….
Akal Budi
Cinta juga harus pake akal. Jangan mencintai secara gila-gilaan, sehingga ditipu pun tidak sadar. Orang yang mencintai juga harus tahu batas, kapan dia bisa memanjakan kekasihnya, memarahinya, atau meninggalkannya. Cinta tidak boleh buta. Duh.. hari gini, tetap saja masih ada orang yang mencintai secara buta, sehingga semuanya dikorbankan, termasuk uang, keluarga, dan sebagainya. Jangan jadi seperti itu ya…
Saya pernah punya teman perempuan. Ia amat mencintai suaminya. Apapun keinginan suaminya pasti dituruti. Gaya hidup mereka mewah, sementara pendapatan tak seberapa. Ketika situasi keuangan menurun, hubungan mereka krisis, dan pecah. Teman saya amat sedih dan patah hati. Ternyata, suaminya hanya mau dimanja, tetapi tidak mau hidup sulit bersamanya. Duh.. anda jangan sampai seperti itu ya…
Beberapa orang bilang, bahwa saya orang yang kejam. Di mata mereka, saya tuh pelit kalau pacaran. Kalau bikin perjanjian tuh tepat banget, sampe keliatan ga manusiawi. Pembelaan saya cuma satu, saya cuma ga mau memanjakan pasangan saya. Saya ingin mereka mandiri, dan tak tergantung secara emosional pada saya. Jahat ga sih begitu?
Saya juga dibilang sok-sok rasional. Itu sih tidak masalah, karena memang prinsip saya tetap sama, yakni pacaran dan cinta pun harus menggunakan akal. Jangan sampai kita diperas, karena cinta. Jangan sampai kita ditipu, karena cinta. Cinta tidak boleh membuat mata kita gelap dari kenyataan. Setuju ga? Hidup cinta.. hidup akal! Hush.. lebai..
Berkembang
Cinta sejati itu mengembangkan. Saya setuju dengan prinsip ini. Orang yang saling mencintai ingin pasangannya lebih baik, lebih pintar, lebih bijak. Hubungan mereka menjadi dasar untuk mengembangkan diri seutuhnya. Setuju?
Namun, ada kalanya upaya mengembangkan diri itu mengancam hubungan. Misalnya, istri dapat promosi di luar kota, dan harus meninggalkan keluarganya. Sementara, si suami merasa, bahwa urusan di rumah terlalu banyak untuk diurusnya sendiri, maka ia tidak setuju dengan rencana itu. Lalu bagaimana?
Saya rasa, tidak ada rumus universal untuk masalah itu. Yang perlu diperhatikan adalah prinsip berikut, semua keputusan yang dibuat harus didasarkan pada pembicaraan yang matang, egaliter, dan bebas dominasi antara semua pihak, yang nantinya terkena dampak dari keputusan itu. Proses ini menjamin, bahwa keputusan yang dibuat itu adil untuk semua pihak. Setujukah anda?
Berkembang juga harus tahu batas. Jangan sampai perkembangan diri justru malah menghancurkan hubungan. Percayalah, kesuksesan tidak ada artinya, kalau anda tidak punya orang yang bisa diajak untuk berbagi kesuksesan itu. Kebahagiaan itu bersifat sosial, dan tidak pernah bersifat semata individual. Orang yang paling berbahagia di dunia ini adalah orang yang paling banyak berbagi. Percaya tidak?
Saya punya seorang teman. Dia amat sabar, dan baik. Istrinya amat ambisius, dan sukses dalam karirnya. Pendapatan istrinya jauh lebih tinggi dari pada dia. Mereka hidup bahagia. Anaknya dua. Teman saya amat mendukung karir istrinya. Sementara, istrinya juga tahu batas, dan tak pernah mengorbankan keluarga. Saya tidak bilang, bahwa mereka keluarga sempurna. Namun, saya yakin, keluarga itu bisa menanggapi semua masalah kehidupan dengan baik, sebesar apapun masalah itu. Bagaimana pengalaman anda?
Paradoks
Esensi terdalam cinta, menurut saya, adalah paradoks. Paradoks itu artinya dua hal yang bertentangan, namun bisa menyatu, dan menciptakan sesuatu. Misalnya, anak itu sekaligus benci dan cinta pada ayahnya, atau orang itu sekaligus lembut dan keras pada saat bersamaan. Intinya, dua hal yang bertentangan justru bisa menyatu secara harmonis. Semoga anda tidak bingung ya..
Cinta pun juga paradoks. Di dalamnya, orang bisa merasakan benci dan sayang pada waktu yang sama. Cinta juga bisa bertahan, jika orang tidak terlalu mengikat pasangannya. Justru dengan melepas orang yang disayangi, maka cinta akan bertumbuh. Sebaliknya, dengan diikat, orang yang dicintai justru akan pergi. Apakah anda punya pengalaman seperti itu?
Kalau kata orang dulu, mencintai itu seperti menggengam pasir. Semakin kita kuat menggengam, semakin cinta itu jatuh. Sebaliknya, jika kita menggenggam dengan santai, maka pasir/cinta itu akan tetap di tangan kita. Jadi, cinta itu memang mirip pasir. Pasir adalah bahan dasar bangunan material, sementara cinta adalah bahan dasar bangunan spiritual. Romantis ya?
Di dalam cinta, semakin kita memberi, semakin kita akan mendapatkan. Semakin banyak kita berkorban, semakin kita akan memiliki banyak. Semakin kita mencintai, semakin kita akan dicintai. Namun, seperti prinsip di atas, prinsip akal budi tetap harus dipakai. Yang pantas-pantas saja dilakukan sebagai manusialah. Kalau kata anak remaja jaman sekarang, jangan lebay ya….
Saya punya pengalaman sewaktu masih kuliah dulu. Ketika pacaran, saya hitung-hitungan dengan pacar saya. Bukan hanya uang, tetapi waktu dan tenaga. Saya malas pergi keluar rumah. Saya malas mengunjungi tempat-tempat yang menarik. Bahkan, saya malas pergi ke kondangan. Siapa yang mau punya pacar seperti itu?
Alasan saya waktu itu hanya satu, yakni hemat, termasuk hemat uang, hemat tenaga, hemat bensin, dan sebagainya. Namun, proses pacaran kami jadi penuh tekanan. Pacaran jadi tidak enjoy, dan hanya menjadi beban. Semuanya dihitung, dan akhirnya saya pusing sendiri. Di akhir-akhir hubungan, saya mulai berubah mulai mengikuti keinginan pacar saya, walaupun itu melelahkan, dan buang-buang uang. Mukjizat terjadi? Hehehe..
Ternyata, hasilnya tidak jelek. Saya lebih enjoy, dapat banyak pengalaman dan pengetahuan baru, serta kenal dengan orang-orang baru. Wawasan saya diperluas. Bahkan, pacar saya bersedia patungan beli bensin, dan traktir makan. Sayangnya, hubungan kami tidak bertahan. Kami putus, karena alasan lain. Yang pasti bukan karena saya pelit… heheheh…
Kembali ke tema, intinya, pacaran itu harus punya cinta. Dan, cinta itu harus dihidupi dengan enam komponen, yakni komponen hasrat (1), kehadiran (2), kemampuan memberi ruang untuk berkembang (3), komitmen (4), harus pakai akal budi (5), dan dijalankan dengan penuh kesadaran akan paradoks hidup (6). Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, kita pacaran! Yuk, belajar mencintai!

Stay Connected

Translate Lenguage