Kamis, 13 Juni 2013

Bukan Orang Bugis Jika Tidak memiliki Badik



Menurut pandangan orang Bugis Makassar, setiap jenis badik memiliki kekuatan sakti (gaib). Kekuatan ini dapat mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan dengan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran ataupun kemelaratan, kemiskinan dan penderitaan bagi yang menyimpannya.

Sejak ratusan tahun silam, badik dipergunakan bukan hanya sebagai senjata untuk membela diri dan berburu tetapi juga sebagai identitas diri dari suatu kelompok etnis atau kebudayaan. Badik ini tidak hanya terkenal di daerah Makassar saja, tetapi juga terdapat di daerah Bugis dan Mandar dengan nama dan bentuk berbeda.

Badik adalah juga senjata tikam yang berasal dari Sulawesi dan paling banyak digunakan oleh masyarakat Bugis Makassar. Badik diposisikan dibawah Keris, untuk itu banyak sekali masyarakat Bugis Makassar yang memiliki Badik dengan tidak memandang strata sosial dari si pemakai. Begitu umum dan kuatnya pemakaian Badik bagi suku Bugis Makassar sehingga dikatakan bahwa Badik adalah teman setia lelaki Bugis Makassar. Karena membawa Badik sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana maka sering kali pada saat operasi, Polisi banyak sekali mendapatkan Badik. Sama halnya dengan Keris, Badik juga didapat secara turun temurun dan terutama apabila si penerima ingin merantau atau beranjak dewasa. Hingga saat ini masih dapat dijumpai pande (Panre) Badik di daerah Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat disana. Kebanyakan dari panrebessie (pande besi) tersebut adalah berprofesi sebagai pedagang ataupun pelaut, menjadi pande besi hanyalah sebagai pendapatan sampingan saja. Seni pamor yang dihasilkan dari tempahan keris atau badik Bugis Makassar tidak segemerlap jika di bandingkan dengan hasil tempahan pande/empu dari tanah Jawa. Pada umumnya masyarakat disana hanya menyukai dan mengetahui beberapa pamor saja seperti Ujung Gunung, Batu Lapak, Qul Buntet, Beras Wutah dan Adeg.





1.  Badik/kawali yang bagus/istimewa dapat dilihat dari beberapa unsur, yakni:
a. Dari segi fisik Badik/ kawali dapat dilihat:
1.  Bahan bakunya terbuat dari besi dan baja pilihan biasanya mengandung meteorit dan ringan. Wilayah Sulawesi Selatan sejak zaman dahulu terkenal dengan besi luwu yang berkualitas tinggi.
2. Pamorragam pamor pada Badik / kawali lebih sederhana dari keris jawa biasanya terdiri dari jenis pamor kurrisi, lasoancale, parinring, bunga pejje, madaongase, kuribojo, tebajampu, timpalajja dan balopakki.

b. Segi sisi’ (tuah) / mistik antara lain:
1. Uleng puleng dan battu lappa, sebenarnya merupakan kandungan meteorit. Bagi sebagian orang percaya Badik/kawali yang mempunyai ulengpuleng (kalau kecil) / battu lappa (kalau besar) akan membawa kebaikan pada pemiliknya baik berupa kemudakan rezki, karisma, maupun peningkatan karir. Posisi ulengpuleng / battulappa yang dicari adalah yang terletak dipunggung badik kira-kira berjarak 5 cm dari hulu / pangulu karena dipercaya akan memudahkan rezki dan karir. Badik/kawali yang memiliki ulengpuleng dan battulappa juga dipercaya dapat menghindari gangguan mahluk halus, sihir dan tolak bala.
2. Mabelesse adalah retakan diatas punggung Badik / kawali sehingga seakan-akan Badik/kawali tersebut akan terbelah dua. Badik seperti ini dipercaya akan memudahkan rezki bagi pemiliknya sehingga banyak dicari oleh yang berprofesi sebagai pedagang.
3. Sumpang buaja sama seperti mabelesse cuma retakannya pada bilah dekat ujung Badik / kawali. Tuahnya sama seperti mabelesse namun yang dicari yang letaknya pada bilah sebelah kanan dekat ujung Badik / kawali.
4. Ure tuo adalah garis yang muncul pada bilah Badik/kawali. Yang dicari adalah yang tidak terputus-putus, kalau letaknya dipunggung Badik/kawali dan tidak terputus dari hulu sampai ujung tuahnya membuat sang pemilik disegani dan dituruti semua perkataannya, kalau melingkar ke atas dari bilah ke bilah sebelahnya seperti badik luwu sambang maka tuahnya untuk melindungi pemiliknya dari malapetaka dan kalau turun ke baja maka untuk memudahkan rezki.
5. Tolongeng adalah lubang pada punggung Badik/kawali yang tembus ke bawah terletak dekat hulu / pangulu sehingga kalau dilihat seakan seperti teropong. Pada zaman dahulu sebelum berangkat perang biasanya panglima perang meneropong pasukannya melalui Badik/kawali tolongeng.
6. Sippa’sikadong adalah retakan pada tengah bilah Badik / kawali dari punggung Badik/kawali. Tuahnya adalah membuat pemiliknya disenangi oleh siapa saja yang melihatnya. Pada zaman dahulu apabila ada seseorang akan melamar gadis, maka utusan dari laki-laki akan membawa Badik/kawali sippa’sikadong yang bertujuan agar memudahkan lamarannya diterima pihak perempuan
7. Pamussa’ adalah upaya memperkuat daya magis Badik / kawali yang diletakan dalam hulu / pangulu Badik/kawali. Biasanya dengan menggunakan bahan-bahan tertentu tergantung akan digunakan untuk apa Badik/kawali yang akan di beri pamussa
8. Pangulu di kalangan masyarakat bugis Bone berkembang suatu keyakinan akan kemampuan yang dimiliki sebagian orang yang mampu membuat pihak lawan tidak mampu mencabut Badik/kawali ketika akan digunakan, ilmu ini dikenal dengan istilah pakuraga / pabinrung. Pangulu yang caredo terbelah/atau memiliki mata) secara alami dipercaya mampu mengatasi orang yang memiliki ilmu tersebut.

 2. Dari segi bentuknya Badik ada 2 macam yang umum yaitu:
a. Badik Jantung Lompobattang merupakan ciri atau karakter dari suku Makassar dan daerah sekitarnya yang berdekatan. Dinamakan Badik Lompobattang karena bentuknya menyerupai Jantung Pisang.
b. Badik La Gecong merupakan badik yang banyak di gunakan oleh suku Bugis yang bentuknya lebih landai.

Berat dari Badik yang di anggap baik adalah yang ringan. Terkadang kita suka terkecoh karena melihat bentuknya yang tidak seimbang dengan beratnya. Hal ini disukai karena jenis badik yang ringan lebih praktis dalam hal perkelahian. Penggunaan besi Luwuk sangat digemari oleh masyarakat Bugis Makassar hal ini dikarenakan mereka mempercayai bahwa tuah yang timbul dari besi Luwuk sangat bagus. Besi Luwuk dipercayai dapat menghindari dari serangan binatang buas.

   Disamping kedua jenis Badik di atas tadi, masyarakat Bugis Makassar juga menyukai jenis badik :
a.  Simpa Siolong / Cappa Sikadong yang ditandai dengan adanya keretakan Pada bagian punggung bilah
b. Patelongi atau Combong lubang pada dinding bilah
c. Rakapeng / Matapakato guratan setengah lingkaran pada mata bilah.
  
Pada jaman dahulu perkelahian menggunakan Badik adalah dengan cara kedua petarung masuk kedalam Lipa (Sarung) dan mereka beradu saling tikam menikam di dalam Lipa tersebut dan siapa yang keluar dengan selamat maka dialah pemenangnya. Perkelahian di daerah suku Bugis Makassar biasanya terpicu oleh masalah pelanggaran akan Siri dan Pesse (Adat Istiadat Bugis Makassar).
Namun yang harus dijaga sebagai orang bugis Makassar adalah pesan nenek moyang kita bahwa "TANIA OGI NAREKKO DE'GAGA KAWALINNA" (BUkan Orang Bugis Jika Tak Memliki BADIK)

Tidak ada komentar:

Stay Connected

Translate Lenguage